Ini bukan akhir dari segalanya

Tersebutlah sebuah keluarga sederhana di sebuah perkampungan kecil… Pak Tua sebagai kepala keluarga mengandalkan upah sebagai nakhoda kapal untuk mencukupi kebutuhan hidup istri dan ke-empat anaknya sehari-hari. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun Pak Tua harus rela meninggalkan keluarga tercinta untuk mengais rezeki, melewati lautan luas, tak peduli siang malam, tak peduli panas hujan.

Singkat cerita ke-empat anak Pak Tua sudah besar dan yang paling bungsu berhasil lulus dari sekolah setaraf SMA… lantas si bungsu mengikuti jejak ketiga kakak kandungnya untuk merantau ke luar kota demi tujuan yang sama, mengais rezeki…

Sungguh suatu kebanggaan tak ternilai bagi Pak Tua bisa menjalankan tanggung jawab terhadap keluarga dengan mencukupi kebutuhan hidup, termasuk biaya pendidikan anak2nya.. Namun Pak Tua tak terlena dengan pencapaian tersebut, pada usianya yang hampir mendekati kepala tujuh masih saja ‘ngotot’ mengikuti sebuah pelatihan ilmu kelautan yg diselenggarakan pihak kantor. Semua demi satu makna “kehidupan yang lebih baik”… Sebuah cerminan semangat pantang menyerah pada sosok kepala keluarga yang satu ini…

Seiring berjalannya waktu… Pak Tua sering sakit2an hingga memaksa dia untuk segera istirahat (berhenti) dari pekerjaannya sebagai nakhoda kapal. Sudah saatnya Pak Tua menikmati hari tua bersama keluarganya… minimal bersama istrinya, karena semua anaknya merantau jauh dari rumah sederhananya tersebut…

Hingga suatu pagi tepatnya 29 Januari 2007,  menjelang waktu shubuh… Pak Tua menghembuskan nafas terakhir… Sang istri hanya seorang diri menangisi raga suaminya yang sudah tak bernyawa dalam pangkuannya itu… Sang istri hanya merasa tak percaya, beberapa menit yang lalu suaminya masih mengajaknya ngobrol tentang anak2 mereka…

Selang beberapa saat kemudian anak2 Pak Tua menerima kabar melalui handphone masing2, “Ayah meninggal”… Sontak semua anak2 Pak Tua menjerit histeris, mereka kehilangan sosok ayah yang sangat mereka kagumi… Mereka baru tersadar bahwa mereka terlalu banyak alasan untuk membalas budi terhadap orang tua mereka… Mereka baru tersadar setelah Pak Tua pergi untuk selama-lamanya…

Tulisan ini didasari kisah nyata sang penulis. Penulis adalah anak ketiga di keluarga Pak Tua tersebut… Dan hari ini tepat 3 tahun berlalu Pak Tua meninggalkan saya dan keluarga untuk selama2nya…

Saya yakin tidak sedikit diantara sobat semua mengalami kejadian yang hampir serupa.. Berbahagialah bagi sobat semua yang masih memiliki kedua orang tua.. Tak ada saat yang tepat untuk mulai membalas budi orang tua selain SEKARANG…!!!

Dan bagi sobat yang sudah ditinggalkan orang tua, jangan terus larut dalam kesedihan. Semua ini sudah menjadi ketentuan-Nya, kita hanya bisa pasrah dan mendoakan mereka agar mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya…

Bangkit dari kesedihan adalah sebuah pilihan… saya hanya selalu teringat sebuah pesan “Ini bukan akhir dari duniamu, kehilangan orang yang sangat kamu sayangi bukan berarti kamu kehilangan segala-galanya…

Tetaplah tatap masa depanmu dengan optimis sobat

:red_heart: :red_heart: :red_heart:

Comment using your Facebook


Warning: Division by zero in /home2/saka21/public_html/wp-includes/comment-template.php on line 1379

Baru ada 20 respon di tulisan “Ini bukan akhir dari segalanya

  1. Terharu. Saya turut berduka.
    Pesan di artikelnya sarat makna Kang, Insya Allah dan terim kasih atas pesannya, karena saya merasakan sudah ditinggal Ibu.
    Hatur nuhun Kang.
    Salam hangat selalu 🙂

  2. para pejuang hidup slalu memberi arti bagi kehidupan para “pewarisnyah” … spirit pantang menyerah … tak mudah kalah … bukan tuk bermewah-mewah .. tp tuk hidup semangkin berkah…

    salam sukses buat keluarga semuah :red_heart:

  3. Bentar kang ambil sapu tangan dulu…saya turut bersedih dan mendoakan semoga ayahanda kang saka diampuni dosanya dan dimasukin ke dalam surganya..amin..salam

  4. hiks..kadang saya juga suka sedih kalau ingat alm.bapak saya, tapi life moves on, doesn’t it? yang penting kita sering2 kirim doa aja ya kang buat alm.

  5. Terima kasih kang sudah berbagi, saya dua kali balikan membaca… saya menemukan makna yang sesungguhnya tentang kehadiran orang tua… untuk membahagiakan kedua orang tua tak perlu menunggu kita sukses, kapanpun bisa membahagiakan keduanya…

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *