Filosofi Hidup Kakek Tua Yang Membuat Aku Kagum

Penulis ›Yayat S38

Seseorang yang pernah menjadi salah satu karyawan di perusahaan menengah yang bergerak di bidang distribusi minyak dan gas. Saat ini sedang mencoba belajar dan mencari peruntungan di bisnis online dan lagi doyan motret.

filosofi hidup

rumah sang kakek yang dilihat dari google earth

Kisah aku menemukan filosofi hidup sang kakeku tua ini diawali ketika aku pulang kampung lebaran kemarin. Ketika aku menikmati sudut-sudut wilayah desa yang masih penuh harapan, udara yang belum tersentuh asap pabrik dan knalpot kendaraan apalagi karena kemacetan dan suasana desa yang kerap dijumpai hutan-hutan kecil yang memberikan kontribusi kesegaran.

Aku tak menyangka akan melewati desa itu kembali yang jaraknya sekitar 24 km dari tempat tinggal keluarga besarku. Rem kuinjak cepat karena aku menemukan kembali rumah seorang yang dulu pemiliknya pernah bercanda beberapa hari ketika aku memborong pohon jatinya untuk biaya menyekolahkan anaknya.
Aku tak menemukannya. Karena rumah itu kosong, tak ada penghuni yang menyahut ucapan salamku. Akhirnya aku mampir ke sebuah warung kecil dan memesan secangkir kopi untuk sekalian bertanya-tanya.

“Ohh .. Aki Wanda (nama samaran) sedang ke Kalimantan, akan kembali sekitar hari Senin depan”, pemilik warung memberitahuku seraya aku sedikit kecewa karena tak bisa menemui aki Wanda dalam waktu dekat.

Hari itu hari Jumat, sementara esoknya aku harus kembali ke hiruk pikuk kota.

Aku ingin menemui Aki Wanda karena selain 7 tahun tidak bertemu, jujur saja entah kenapa aku naksir sekali sama tanahnya. Apalagi sang penjaga warung mengatakan kalau Aki Wanda mungkin akan pindah ke Kalimantan juga karena anaknya sudah berhasil membangun usaha di pulau yang kaya SDA itu. Aku kembali melirik rumah aki Wanda. Rumah yang luasnya hampir 1000 m2 berada di sebuah perempatan desa yang “strategis”. Dulu sempat aku menyampaikan kekagumannya.

Esoknya ketika perjalanan untuk kembali setelah menuntaskan masa-masa indahnya berlebaran, kulewati jalan ini, dan kutunjukkan kepada istriku. Istriku menyukainya.

Sebulan kemudian telpon berdering. Dari utusanku yang kuminta menghubungi Aki Wanda. Utusanku hanya menyampaikan kalau aku pernah datang dan tertarik sama tanah Aki. Konon keinginanku hanya dibalas dengan senyum. Namun Ki Wanda menyampaikan salamnya dan punya keinginan untuk bertemu denganku kembali.  Si Aki yang kerjanya sampai saat ini konon masih usaha gula aren di rumahnya masih ingat kepadaku.  Aku jadi kena penyakit GR.

Tanpa buang waktu, aku pun harus menempuh jarak kurang lebih 600 km untuk menemui sang Aki karena siapa tahu memang dia mau menjual tanah dan rumahnya. Walau jawaban senyumnya masih tanda tanya, Aku sudah membayangkan itu rumah akan menjadi rumah sekaligus kantorku, tanpa AC, dan kutanam beberapa pepohonan dan tentunya pohon mangga kesukaan istriku. Dan letak tanah yang berada di pojokan, mungkin akan baik jika lantas aku membangun sebuah toko kecil. Prediksiku terlalu kuat, kelak jalan alternatif di depan rumah aki ini akan ramai seiring dengan berkembangnya kota kabupaten. Jarak ke kota kabupaten tidak lebih dari 10 km.

Ketemulah aku sama si aki. Setelah ngalor ngidul, lantas akupun menyampaikan berita-berita yang saya terima dan jika benar saya berminat untuk merawat rumah dan tanahnya (bahasa halus dari membeli).

Si aki menjawab, “Nak, saya tidak akan meninggalkan rumah ini. Rumah ini adalah betul-betul rumah aki, yang aki miliki sendiri, menabung selama hampir 20 tahun usaha sampai memiliki tanah ini. Sejengkalpun tidak akan aki jual. Aki sudah bahagia dengan hidup seperti ini. Belum tentu dengan penawaran yang besar, aki punya rumah baru tapi akan nyaman dan tenang seperti aki hidup di rumah ini. Anda adalah yang ke 9 termasuk yang punya warung depan, datang ke aki karena suka dengan tanah ini, semuanya aki tolak, kecuali besok aki sudah tidak ada. Jangan harap kalo aki masih ada akan menyerahkan tanah ini kepada siapapun juga. Ini adalah tanah air aki. Kalo mau hidup apa aja ada, aki tinggal ikut saja di Kalimantan sama anak aki. Tapi aki nyaman dan tenang hidup di sini walau berdua sama si Nini”.

Aku terlalu melawan egoku karena seakan berita kalau tanah si aki akan dijual. Sudah datang jauh-jauh, seakan dalam pikiranku aku akan memiliki tanah nan indah ini.  Konon harga pasaran di sana masih Rp 600.000, per tumbak. 1 tumbak = 14 m2.

Tapi si aki tetap tidak bergeming. Tidak tergiur oleh penawaranku. Tidak terganggu oleh iming-iming anaknya yang hidup makmur di kalimantan sana. Rumahnya masih tetap seperti 7 tahun yang lalu, setengah permanen dengan warna cat yang sama, putih dengan list biru.

Tapi kenyamanan si Aki tidak diukur oleh harta namun ketenangannya menjalani hidup. Dan yang membuat sangat trenyuh dan tersadar adalah kata-kata si aki “Janganlah terpukau sama tanah aki yang hanya segini, tanah ini bisa jadi nyaman buat aki untuk hidup dan ibadah tapi belum tentu nyaman buat anda, apalagi untuk memilikinya  dengan iming-iming yang belum tentu nyata buat aki. Tidak nak”, katanya tegas.

Pesan moral dari kejadian ini :

  • Janganlah memaksakan kehendak orang lain, apalagi ingin merubah pola hidupnya walau dengan cara-cara yang halal, dalam kasus di atas adalah dengan cara rencana jual beli.
  • Tidak selamanya harta akan memberikan kenyamanan dalam meniti hidup ini.
  • Hidup sebenarnya adalah untuk ibadah.
  • Uang tidak selamanya akan membuat apa yang diinginkan akan terlaksana.
  • Jangan terkecoh oleh kabar burung yang tidak pasti, akhirnya akan membikin malu sendiri. 😀

Aslinya dialog dengan sang kakek tadi dalam bahasa Sunda. Sebuah pengalaman yang bisa mengambil hikmah dari filosofi seorang kakek yaitu menikmati hidup dengan sewajarnya karena pada dasarnya hidup itu untuk ibadah. Kakek 1 anak dan 2 cucu yang ditemui adalah seorang kakek yang masih tetap kukuh dengan prinsip hidupnya.

Semoga menginspirasi :I

Salam 🙂

Comment using your Facebook


Warning: Division by zero in /home2/saka21/public_html/wp-includes/comment-template.php on line 1379

Baru ada 4 respon di tulisan “Filosofi Hidup Kakek Tua Yang Membuat Aku Kagum

  1. benar2 pelajaran berharga , utk direnungi bagi diri sendiri …..
    ketenangan hidup tdk didapat dr memiliki harta yg berlimpah, namun dgn selalu mensyukuri apa yg ada dan dinikmati dgn penuh ikhlas, disitulah kebahagiaan bathin akan lebih terasa , gituh ya Kang 🙂
    terimakasih utk tulisan yg indah ini ….
    salam

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *